Rabu, 29 September 2021

Sanksi Penolakan Vaksin

Pemerintah telah melaksanakan program vaksinasi Covid-19 bagi 181 juta penduduk Indonesia sejak 13 Januari 2021 lalu. Namun, bagi mereka yang terdaftar sebagai penerima vaksin namun menolak disuntik vaksin, pemerintah menyiapkan sanksi.

Sanksi tersebut tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 14 tahun 2021 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2020 tentang Pengadaan Vaksin dan Pelaksanaan Vaksinasi dalam Rangka Penanggulangan Pandemi Corona Virus Disease 2019 pada 9 Februari 2021.

Sanksi Menolak Vaksin

Mereka yang telah ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin Covid-19 wajib mengikuti vaksinasi Covid-19, kecuali bagi mereka yang tidak memenuhi kriteria penerima vaksin sesuai indikasi vaksin Covid-19 yang tersedia.

Dalam Perpres 14/2021 Pasal 13A disebutkan bahwa setiap orang yang telah ditetapkan sebagai sasaran penerima vaksin Covid-19 yang tidak mengikuti vaksinasi Covid-19 dapat dikenakan sanksi administratif berupa:

  1. penundaan atau penghentian pemberian jaminan sosial atau bantuan sosial
  2. penundaan atau penghentian layanan administrasi pemerintahan; dan/atau
  3. denda.

Sanksi itu akan dilakukan oleh Kementerian, lembaga, pemerintah daerah, atau badan sesuai dengan kewenangannya. Selain sanksi administratif, pemerintah mengatur masyarakat penerima vaksin COVID-19 yang tidak mengikuti program ini bisa dikenai sanksi sesuai UU yang berlaku.

Scalping Saham Muda Ala Bekti Sutisna

https://ekbis.sindonews.com/read/498912/38/bekti-sutikna-ungkap-scalping-saham-mudah-asal-konsisten-1627859335

Bekti Sutikna Ungkap Scalping Saham Mudah Asal Konsisten

Senin, 02 Agustus 2021 - 06:30 WIB
Bekti Sutikna Ungkap Scalping Saham Mudah Asal Konsisten
Bekti Sutikna. Foto/Instagram
JAKARTA - Bekti Sutikna tak terlahir sebagai full time scalper. Namun, sebelumnya selama menjadi full time trader, Bekti menghabiskan waktu hampir setiap hari untuk memantau pergerakan saham .

Sebagai gambaran, scalping merupakan strategi jual beli saham dengan cara membeli kemudian menjualnya lagi dalam waktu singkat. Strategi ini biasanya ditempuh oleh trader yang ingin cepat mendapatkan keuntungan.

Bekti mengibaratkan pekerjaannya saat ini seperti orang yang membuka lapak di pasar. Pada waktu pembukaan perdagangan, dia melakukan transaksi beli. Sedangkan saat penutupan, Bekti melakukan aksi jual.

Baca juga: 7 Tips Scalping Saham Bagi Pemula Ala Bekti Sutikna



Selama menjadi full time trader, dia mengaku sempat merugi, apalagi bila kondisi IHSG amblas. Jumlah kerugian paling banyak yang dialaminya mencapai Rp1,5 miliar per hari. Kerugian bisa lebih besar kalau Bekti tidak langsung menjual sahamnya.

“Saya pernah mengalami menginapkan saham ketika market sore hari tutup, lalu ada sentimen dari bursa luar negeri buruk, sentimen turun, berita negatif muncul, paginya pas open langsung rontok. Jadi, saya pilih untuk beli pagi dan langsung jual sore,” ujarnya saat diskusi Scalping x Bektomology, Minggu (1/8/2021).


Sebagai full time trader, Bekti pun menyebut dia jarang berinteraksi dengan lingkungan luar. Pekerjaannya mengharuskan di berada di depan monitor. Bagi trader pemula yang ingin terjun ke saham dengan konsisten, Bekti menyarankan cara dasar scalping sebagai berikut:

1. Screening saham dengan mencari news atau berita di malam hari.
2. Buat catatan di buku tentang saham yang kemungkinan, mungkin sektor bank lalu buat cartnya untuk besok agar ada gambaran.

Pengertian Bandarmology – Akumulasi Distribusi



Data Saham Indonesia



Bandarmology berasal dari kata “Bandar” dan ditambahkan akhiran “-mology” yang dapat diartikan pengetahuan/ilmu, sehingga istilah bandarmology yang sering terdengar dalam perdagangan di pasar saham dapat diartikan ilmu/analisa yang mencoba mengidentifikasi kemana arah perdagangan, atau pergerakan transaksi yang sedang dilakukan bandar/pemain besar pada suatu saham, dengan tujuan untuk mengikuti/menunggangi arah pergerakan bandar tersebut.

Bagi trader yang sudah cukup mengenal pasar saham tentu mengetahui bahwa harga saham saat ini tidak selalu ditentukan oleh supply dan demand yang real, melainkan ada pihak-pihak yang bisa mengendalikan berapa harga saham pada suatu saat. Bagaimana cara mengendalikannya? Dengan jumlah uang yang besar dan jumlah lot saham yang banyak, bandar bisa mempengaruhi sisi supply dan demand secara langsung dan artificial. Selain itu umumnya bandar juga dekat dengan pemilik perusahaan atau pemegang saham mayoritas, atau bahkan merupakan grup/kelompok yang sama, sehingga tidak jarang bandar mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi kebijikan-kebijikan diambil oleh management perusahaan, atau paling tidak mengetahui informasi akurat mengenai kondisi internal perusahaan.

Ini alasannya kenapa perusahaan yang laporan keuangannya merugi, atau secara fundamental tidak bagus, atau sudah kemahalan jauh diatas valuasi wajarnya, tetapi harga sahamnya bisa tetap naik. Maupun sebaliknya, perusahaan yang secara fundamental sebenarnya tidak ada masalah tetapi harga sahamnya bisa dibuat jatuh dalam, sampai tidak jarang para analist harus menebak-nebak apa penyebab penurunan harga saham tersebut. (Dan memang seringnya harga bergerak terlebih dahulu, barulah kemudian orang mencari atau mencocok apa alasannya). Pihak-pihak inilah yang dikenal dengan sebutan Bandar, yaitu pemain besar/market maker yang mampu mengatur arah pergerakan saham. Bandar umumnya tidak bekerja sendirian, melainkan ada group/kelompoknya yang saling terkoordinasi, mungkin kita dengar ada ring 0, ring 1, dst. Kita tidak mengenal siapa bandar tersebut, tetapi kita tahu dia ada, dan pada artikel ini kita akan menggunakan istilah bandar tanpa perlu mengetahui siapa orangnya dan bagaimana wujud maupun penampakannya.

Pada pasar saham Indonesia, kita bisa mengetahui identitas para pelaku transaksi saham, yaitu identitas penjual dan identitas pembeli pada setiap transaksi, sampai dengan level tertentu, yaitu identitas siapa broker/sekuritas yang digunakan, dan juga identitas kewarga-negaraannya baik penjual maupun pembeli, apakah lokal atau asing/foreign. Ini dimungkinkan karena data ini muncul pada setiap transaksi saham yang terjadi, yaitu pada running trade, yang bisa diakses pada semua aplikasi OLT/online trading. Tentu kita tidak bisa mengetahui sampai level per individu siapa nasabah yang melakukan transaksi, karena data ini tidak dibuka ke publik oleh bursa (kecuali jika kita bisa meng-hack masuk ke sistem trading bursa karena data identitas per nasabah sebenarnya ada disimpan di bursa). Namun cukup dari data ini kita bisa membuat analisa mengenai apa yang sedang dilakukan bandar, apakah akumulasi, distribusi, atau malah tidak melakukan apapun (atau istilahnya saham tersebut dicuekin bandar) yang biasa ditandai dengan volume transaksi kecil dan harga yang turun sedikit demi sedikit karena trader retail exit/melakukan cut loss dan ditampung oleh trader retail yang lain.

Pada aplikasi data saham Indonesia terdapat 2 analisa bandarmologi, yaitu:

top 5 broker net transaction
foreign net transaction (NBSA: Net Buy Sell Asing)
Top 5 broker net transaction – accumulation distribution

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kita bisa mengetahui data broker yang digunakan oleh buyer maupun seller, maka kita bisa membuat data broker summary, yaitu berapa jumlah transaksi yang dilakukan oleh masing-masing broker, baik jual maupun beli pada suatu saham, dan diurutkan dari nilai terbesar sampai terkecil.

tlkm_broker_summary_20190820

Tabel pada gambar diatas adalah broker summary dimana kita bisa mengetahui broker mana yang melakukan transaksi buy dan sell terbesar pada saham TLKM. Satu broker bisa melakukan transaksi buy dan sell sekaligus, karena broker mewakili banyak trader/investor individual, maupun fund (mutual fund, dll). Contoh pada gambar diatas broker ZP melakukan buy TLKM sebanyak 81.256 lot pada harga rata-rata di 4374.38 rupiah, dan melakukan jual TLKM sebanyak 45.653 lot pada harga rata-rata di 4373.11 rupiah. Sehingga terjadi net buy sebesar 35.603 lot. Dari tabel ini kita bisa membuat 1 tabel lagi yang menampilkan transaksi bersih masing-masih broker, apakah net buy atau net sell.

tlkm_net_broker_summary_20190820

Tabel pada gambar diatas adalah nilai transaksi bersih masing-masing broker, yaitu transaksi buy dikurangi transaksi sell. Jika bernilai positif maka terjadi net buy, dan jika bernilai negatif maka terjadi net sell oleh broker tersebut. Pada tabel diatas sudah bisa dilihat secara sekilas bahwa sedang terjadi akumulasi pada saham TLKM, yaitu jumlah buyer lebih sedikit daripada jumlah seller, yang artinya buyer mengumpulkan barang (akumulasi) dari banyak seller. Tetapi untuk perhitungan top 5 broker accumulation distribution kita hanya fokus pada 5 broker buyer terbesar dan 5 broker seller terbesar (top 5 buyer dan top 5 seller).

Top 5 Broker accumulation distribution merupakan teori akumulasi dengan membandingkan total dari top 5 broker BUY vs. total dari top 5 broker SELL dan menghitung selisihnya. Apabila lebih besar total BUY, maka selisih dari keduanya dicatatkan sebagai akumulasi. Sebaliknya apabila lebih besar total SELL, maka selisih dari keduanya dicatatkan sebagai distribusi. Mengapa menggunakan 5 broker? Ini karena bandar umumnya menggunakan beberapa broker/perantara untuk melakukan transaksi, dan broker ini pun ada kemungkinan bisa berganti-ganti dari hari ke hari. Dalam hal ini kita asumsikan saja bandar menggunakan 5 broker untuk melakukan transaksi, pada kenyataannya tentu bisa berbeda-beda pada setiap saham, dan pada setiap bandar.

Pada gambar diatas kita bisa menghitung top 5 broker accumulation distribution:

top 5 broker = [total buy oleh top 5 buyer] – [total sell oleh top 5 seller]

= [net transaksi RX + CS + ZP + CG + IF] – [net transaksi AK + AI + GR + FZ + DX]

= [213.804] – [151.102]

= 62.702

Terjadi akumulasi sebanyak 62.702 lot saham TLKM oleh top 5 broker net transaction.

Pada aplikasi data saham Indonesia, data ini dihitung secara realtime dan ditampilkan dalam bentuk chart pada layar bandarmology, dan bisa diakses pada timeframe daily, maupun timeframe yang lebih kecil (intraday) antara lain: hourly, 15min, dan 5min untuk keperluan trading cepat.

foreign net transaction (NBSA: Net Buy Sell Asing)

Foreign Flow (NBSA: Net Buy Sell Asing), yang merupakan teori akumulasi distribusi berdasarkan perhitungan Buy Dan Sell yang dilakukan spesifik oleh trader dengan Type F (Foreign)

Nilai akumulasi distribusi asing = [total buy oleh asing] – [total sell oleh asing]

Perhitungan NBSA lebih cocok untuk saham-saham yang diminati oleh asing, yang biasanya juga merupakan saham-saham favorit pada portfolio reksadana/mutual fund.

Data Foreign Flow/NBSA dapat diakses pada layar bandarmology pada aplikasi data saham Indonesia, dan ditampilkan dalam timeframe daily, hourly, 15min, dan 5min untuk keperluan trading cepat.

Cara kerja bandar

Bagaimana cara bandar bekerja mengontrol harga dan mendapatkan profit besar? Berikut ini ilustrasi tentang cara kerja Bandar. Tetapi sebelumnya disclaimer, kami tidak kenal dekat dengan bandar (hanya sebatas tahu beberapa orang yang disinyalir melakukan kegiatan bandar), dan belum pernah berdiskusi langsung dengan seorang bandar tentang bagaimana mereka melakukan aksi goreng saham. Apa yang akan kami sampaikan disini hanyalah model cara kerja bandar yang ada dipikiran kami berdasarkan pengamatan dan pengalaman dalam trading saham. Mungkin model ini mendekati kenyataan, atau malah jauh panggang daripada api atau sama sekali ngga mengena bahkan di kulit-kulitnya, sehingga untuk amannya anggap saja ini cerita fiksi.

Ada dua tipe bandar, sebut saja istilahnya bandar baik dan bandar jahat. Kita akan lebih banyak membahas cara kerja bandar jahat dibawah, dan sedikit saja tentang bandar baik. Bandar baik sebenarnya hanya perantara order transaksi. Proyek dimulai ketika bandar mendapat order/perintah beli atau jual dari salah satu penyandang dana besar atau institusi fund manager pada harga tertentu dan tanggal deadline tertentu, yang ditentukan secara negosiasi antara bandar dan penyandang dana. Kemudian bandar ini akan mulai mengeksekusi order sambil berusaha membeli dibawah harga yang diperintahkan untuk order beli, dan menjual diatas harga yang diperintahkan untuk order jual. Spread atau perbedaan antara harga rata-rata transaksi dan harga perintah order ini akan menjadi profit si bandar, sehingga dia akan berusaha keras untuk mempengaruhi harga agar mencapai level yang diinginkan. Misal jika mendapat order beli, bisa jadi pada awalnya dia akan banting dulu harga ke bawah dengan menjual stok saham milik dia sendiri, baru kemudian mengumpulkan lagi dibawah. Sebaliknya juga untuk order jual bisa jadi awalnya bandar harus menaikkan harga terlebih dahulu.

Pada umumnya siklus akumulasi-distribusi oleh Bandar terdiri atas beberapa fase, antara lain:

akumulasi
mark-up
distribusi
mark-down
exit
Untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan pada chart berikut:

Accumulation - Distribution Chart
Accumulation – Distribution Chart

Sumber: http://stockcharts.com/school/doku.php?id=chart_school:market_analysis:wyckoff_market_analysis

Chart ini menggambarkan siklus akumulasi dan distribusi. Tentunya ini merupakan model yang disederhanakan, pada kenyataannya bentuk chart akan lebih kompleks karena proses akumulasi maupun distribusi dapat terjadi berkali-kali oleh pihak yang berbeda-beda, baik sejalan maupun berlawanan.

Pada fase awal akumulasi, bandar yang memiliki akses informasi lebih baik terhadap suatu saham atau pasar akan mulai mengumpulkan barang. Pada proses akumulasi ini bandar tidak ingin harga saham melonjak naik ketika mulai dikoleksi, oleh karena itu bandar akan melakukannya diam-diam, sedikit demi sedikit, agar tidak terjadi lonjakan pada sisi demand sehingga mempengaruhi harga. Di samping itu bandar juga akan menjaga sisi supply tetap tinggi, caranya dengan memanfaatkan sentimen negatif pasar, mengeluarkan analisa atau berita negatif (dengan modal besar bandar akan dekat dengan broker dan juga management perusahaan, sehingga sangat memungkinkan untuk mempengaruhi hasil analisa/riset/forecast dari suatu saham, maupun langkah-langkah atau kebijakan yang diambil oleh management perusahaan). Proses akumulasi juga tidak harus membeli dari secondary market, mungkin bisa jadi dari repo. Dari sisi pemegang saham proses repo adalah meminjam uang dengan memberikan jaminan saham, tetapi dari sisi bandar terjadi proses kebalikannya: meminjam saham dengan jaminan uang, yang nantinya harus dikembalikan kepada pemilik awal dalam bentuk saham.

Fase akumulasi diakhiri dengan proses mark up, yaitu menaikkan harga dengan cepat untuk menarik pihak-pihak lain untuk ikut dalam transaksi karena tergiur pergerakan harga saham yang liar dan hot. Pada saat ini rumor mulai dihembuskan kepada ring-1 bandar, yang masih merupakan kaki tangan bandar, bahwa saham X sedang ada hajatan untuk di goreng, silakan ambil posisi. Seiring pergerakan harga, rumor semakin lama semakin menyebar.

Selanjutnya akan terjadi fase distribusi dimana harga bergerak relatif sideways, volume transaksi masih besar, terjadi beberapa kali koreksi dalam, namun beberapa kali juga akan kembali lagi ke titik tertingginya. Dimana yang terjadi adalah bandar membuang barang untuk take profit, namun juga tetap harus menjaga harga agar tidak jatuh menembus level psikologis tertentu sehingga tidak menghilangkan minat beli. News mulai dikeluarkan untuk semakin memancing minat beli untuk orang-orang yang ketinggalan kereta yang tidak sempat ikut pada fase markup. Ini sebabnya ada istilah: buy on rumor, sell on news. Karena pada saat news keluar maka ada petanda pesta sudah hampir selesai (dan bandar perlu banyak orang untuk bersih-bersih dan cuci piring).

Di akhir fase distribusi bandar akan memiliki sedikit sisa barang, untuk saham-saham yang dikuasai bandar secara dominan atau tidak ada bandar lain yang menjadi lawan seimbang. Maka bandar bisa menjatuhkan harga dengan cara membanjiri pasar dengan barang, sehingga sesuai dengan hukum supply and demand dimana supply berlebih dan tidak ada demand maka harga akan jatuh. Jatuhnya harga akan semakin membuat panik trader dan sebagian akan melakukan cut loss sehingga akan semakin menjatuhkan harga. Proses mark-down ini dilakukan agar bandar bisa melakukan akumulasi lagi diharga yang murah pada proses akumulasi berikutnya. Terutama jika saham tersebut adalah pinjaman, maka bandar memiliki kewajiban untuk mengembalikan kepada pemiliknya dalam bentuk saham.

Pada skenario dimana bandar tidak harus melakukan akumulasi lagi di harga bawah, maka bandar akan exit/meninggalkan saham tersebut. Pergerakan harga saham akan terlihat lesu, sepi seperti di kuburan, volume kecil, dan harga semakin lama semakin menurun karena transaksi akan didominasi oleh investor nyangkut yang melakukan cut loss. Inilah yang terjadi pada banyak saham yang harga nya parkir di gocap (tetapi kalau sudah sampai gocap akan sangat susah untuk exit). Pada suatu waktu tidak menutup kemungkinan setelah 5 atau 10 tahun bandar lama, maupun bandar baru, bisa saja kembali masuk ke dalam saham tersebut dan kembali meramaikan perdagangan, memulai siklus hajatan selanjutnya. Biasanya disertai dengan rumor bahwa perusahaan akan diakuisisi, atau melakukan corporate action, atau menemukan bisnis baru.

Bagaimana menghindari kerugian besar akibat aksi goreng saham oleh bandar, dan malah bisa menunggangi aksi bandar tersebut untuk mendapat profit pada saham gorengan? Pertama jangan ikut trading pada saham-saham yang bandar nya tidak ada lawan, artinya saham tersebut dikuasai oleh satu bandar itu sendiri. Lebih baik salurkan energi anda untuk menganalisa saham-saham lain yang memang ada valuasinya. Bahkan data bandarmologi juga tidak terlalu membantu untuk saham-saham ini karena bandar dengan mudah memanipulasi perhitungan bandarmologi, karena bandar juga mengetahui teknik perhitungan bandarmologi. Ada 2 pengecualian untuk kasus ini yaitu 1. kalau anda kenal dekat dengan seorang kaki tangan bandar dan mendapat info langsung dari orang itu, disini artinya kita me-monetize relasi kita dengan bandar. dan 2. memang anda ingin gambling dan tidak masalah dengan kehilangan 100% uang anda pada saham tersebut (dan jumlah yang anda sisihkan untuk trading saham tersebut juga tidak seberapa dibanding total harta kekayaan anda). Tidak ada yang salah dengan gambling, boleh-boleh saja terutama mengingat saham adalah salah satu media gambling yang LEGAL di Indonesia (sebenarnya semua hal bisa dijadikan gambling tetapi tidak semua mudah dilakukan dan legal). Tetapi yang bisa jadi salah adalah jika kita gambling tetapi tidak sadar sedang gambling, ini bahaya.

 

 


Senin, 27 September 2021

DAMRI Jogja Borobudur Dieng Hanya Rp 30 ribu

Rute Jogja ke Borobudur ke Dieng (Purbalingga) hanya 30 ribu. Selain itu ada juga rute ke Plono dan Candi Gedong Songo (Ungaran)hanya 25 ribu. 

Voucher Zalora

Anda mendapatkan voucher Zalora disc. 20% & CB 7% min. trx 300rb. Masukkan kode voucher TDC7Y3DL2GO di tsel.me/DCIZal hingga 05-OCT-21. Info: tsel.me/DCI27

Anda mendapatkan voucher Zalora disc. 20% & CB 5% min. trx 200rb. Masukkan kode voucher TDC5TOWVURV di tsel.me/DCIZal hingga 05-OCT-21. Info: tsel.me/DCI27

Anda mendapatkan voucher Zalora disc. 20% & CB 7% min. trx 300rb. Masukkan kode voucher TDC7SY2XII7 di tsel.me/DCIZal hingga 05-OCT-21. Info: tsel.me/DCI27


Rabu, 22 September 2021

Tes Antigen Kereta Api 45 Ribu

Mulai Jumat 24 September 2021 tes antigen di stasiun kereta api hanya Rp 45.000,-. Berlaku untuk pemegang tiket jarak jauh yang sudah lunas. 
https://www.instagram.com/p/CUJmS12FzS6/?utm_medium=copy_link

Minggu, 19 September 2021

Nama Dusun Se Bantul DIY

SEKEDAR BUAT TAMBAH WAWASAN NAMA DUSUN SE BANTUL

1. SRANDAKAN :
-1. PONCOSARI :
1. Singgelo
2. Talkondo
3. Godekan
4. Wonotingal
5. Bayuran
6. Polosiyo
7. Gunturgeni
8. Besole
9. Sambeng I
10. Sambeng II
11. Sambeng III
12. Jragan I
13. Jragan II
14. Bibis
15. Kokap
16. Koripan
17. Jopaten
18. Bodowaluh
19. Karang
20. Babakan
21. Krajan
22. Ngentak
23. Kuwaru
24. Cangkring

-2. TRIMURTI :
1. Srandakan
2. Greso
3. Klurahan
4. Prokerten
5. Jetis
6. Sawahan
7. Puron
8. Puluhan Kidul
9. Puluhan Lor
10. Pedak
11. Gunungsaren
12. Gunung Saren Lor
13. Nengahan
14. Lopati
15. Bendo
16. Celan
17. Cangunan
18. Mangiran
19. Sapuangin
2. SANDEN :

-3. GADINGSARI :
1. Dayu
2. Kenteng
3. Ketalo
4. Klatak
5. Soka
6. Sorobayan
7. Bongos I
8. Bongos II
9. Klakaran
10. Tegesan
11. Nampan
12. Nanggulan
13. Demakan
14. Wonorejo I
15. Wonorejo II
16. Patihan
17. Wonoroto
18. Demangan

-4. GADINGHARJO :
1. Kalimundu
2. Daleman
3. Merten
4. Ngujung
5. Pranti
6. Karanganyar

-5.SRIGADING :
1. Gedongan
2. Ceme
3. Celep
4. Tinggen
5. Bonggalan
6. Kalijurang
7. Ngunan-unan
8. Wuluhadeg
9. Wirosutan
10. Srabahan
11. Gokerten
12. Sangkeh
13. Malangan
14. Dengokan
15. Dodogan
16. Ngemplak
17. Ngepet
18. Tegalrejo
19. Cetan
20. Sogesanden

-6. MURTIGADING :
1. Ngentak
2. Pucang Anom I
3. Trisigan I
4. Trisigan II
5. Dagan
6. Sanggrahan
7. Kurahan I
8. Kurahan II
9. Piring I
10. Piring II
11. Mayungan I
12. Mayungan II
13. Pucang Anom II
14. Pucang Anom III
15. Sanden
16. Bongoskenthi
17. Peciro
18. Kranggan
3. KRETEK :

-7. TIRTOMULYO :
1. Plesan
2. Paliyan
3. Karen
4. Gondangan
5. Kergan
6. Bracan
7. Tokolan
8. Tluren
9. Gaten
10. Jebugan
11. Karangweru
12. Genting
13. Soropadan
14. Jetis
15. Punduhan

-8. PARANGTRITIS :
1. Kretek
2. Sono
3. Samiran
4. Bungkis
5. Depok
6. Duwuran
7. Grogol VII
8. Grogol VIII
9. Grogol IX
10. Grogol X
11. Mancingan

-9. DONOTIRTO :
1. Kalipakel
2. Gading daton
3. Palangjiwan
4. Gading lumbung
5. Gadingharjo
6. Mersan
7. Colo
8. Busuran
9. Sruwuh
10. Tegalsari
11. Metuk
12. Greges
13. Mriyan

-10. TIRTOSARI :
1. Mulekan I
2. Mulekan II
3. Pangkah
4. Cimpon
5. Tegaltapen
6. Buruhan
7. Galan

-11. TIRTOHARGO :
1. Baros
2. Muneng
3. Gunung Kunci
4. Gegunung
5. Kalangan
6. Karang
4. PUNDONG :

-12. SELOHARJO :
1. Dukuh
2. Nambangan
3. Pentung
4. Darmojurang
5. Bobok tempel
6. Geger
7. Soka
8. Karangasem
9. Ngentak
10. Biro
11. Kalipakem
12. Blali
13. Ngreco
14. Poyahan
15. Jelapan
16. Kalinampu

-13. PANJANGREJO :
1. Grudo
2. Jamprit
3. Nglembu
4. Tarungan
5. Gedangan
6. Badan
7. Panjang
8. Soronangggan
9. Gedong
10. Watu
11. Jetis
12. Nglorong
13. Semampir
14. Krapyak Kulon
15. Krapyak Wetan
16. Gunung Puyuh

-14. SRIHARDONO :
1. Sawahan
2. Candi
3. Monggang
4. Tangkil
5. Baran
6. Piring
7. Pundong
8. Jonggrangan
9. Gulon
10. Paten
11. Pranti
12. Potrobayan
13. Tulung
14. Klisat
15. Nangsri
16. Seyegan
17. Ganjuran
5. BAMBANGLI-LIPURO :

-15. SIDOMULYO :
1. NgajaraN
2. Cangkring
3. Palihan
4. Sirat
5. Ngireng-ireng
6. Tempel
7. Prenggan
8. Selo
9. Plematung
10. Plebengan
11. Ponggok
12. Pinggir
13. Turi
14. Glodogan
15. Kuwon

-16. MULYODADI :
1. Mejing
2. Paker
3. Wonodoro
4. Destan
5. Kraton
6. Bregan
7. Plumutan
8. Cangkring
9. Tulasan
10. Jomblang
11. Ngambah
12. Kepuh
13. Warungpring
14. Carikan

-17. SUMBERMULYO :
1. Kanutan
2. Siten
3. Tangkilan
4. Kutu
5. Kedon
6. Kaligondang
7. Gedogan
8. Gunungan
9. Jogodayoh
10. Plumbungan
11. Caben
12. Samen
13. Gersik
14. Bondalem
15. Kintelan
16. Cepoko
6. PANDAK :

-18. CATURHARJO :
1. Bayuurip
2. Gluntung Lor
3. Gluntung Kidul
4. Gumulan
5. Tegalsempu
6. Tunjungan
7. Krapakan
8. Samparan
9. Tegallayang 9
10. Tegallayang 10
11. Kuroboyo
12. Korowelang
13. Glagahan
14. Bogem

-19. TRIHARJO :
1. Siangan
2. Juwono
3. Ngabean
4. Gunturan
5. Ciren
6. Jalakan
7. Jigudan
8. Tirto
9. Jaten
10. Nglarang

-20. GILANGHARJO :
1. Kadisoro
2. Jodog
3. Karangasem
4. Daleman
5. Jomboran
6. Kauman
7. Bongsren
8. Kadekrowo
9. Ngaran
10. Karanggede
11. Gunting
12. Depok
13. Tegallurung
14. Banjarwaru
15. Krekah

-21. WIJIREJO :
1. Pandak
2. Bajang
3. Gesikan III
4. Gesikan IV
5. Bergan
6. Ngeblak
7. Pedak
8. Kauman
9. Gedongsari
10. Kwalangan
7. PAJANGAN :

-22. TRIWIDADI :
1. Guwo
2. Jojoran Wetan
3. Jojoran Kulon
4. Nanggul
5. Kersan
6. Sabrang Kidul
7. Sabrang Lor
8. Gampeng
9. Pajangan
10. Kadireso
11. Blabak
12. Polaman
13. Butuh Kidul
14. Butuh Lor
15. Kalisoko
16. Ngincep
17. Jogonandan
18. Jambean
19. Kayuhan Wetan
20. Kayuhan Kulon
21. Plambongan
22. Trucuk

-23. SENDANGSARI :
1. Benyo
2. Jetis
3. Panjangan
4. Kayen
5. Beji Wetan
6. Beji wetan
7. Gupakwarak
8. Dadapbong
9. Krebet
10. Kabrokan Wetan
11. Kabrokan Kulon
12. Kamijoro
13. Kunden
14. Manukan
15. Jaten
16. Mangir Lor
17. Mangir tengah
18. Mangir Kidul

-24. GUWOSARI :
1. Kembang Putihan
2. Kentholan Lor
3. Kentholan Kidul
4. Gandekan
5. Dukuh
6. Iroyudan
7. Kembang gede
8. Kadisono
9. Karangber
10. Santan
11. Kalakijo
12. Kedung
13. Bungsing
14. Watu Gedog
15. Pring Gading
8. BANTUL :

-25. PALBAPANG :
1. Kadirojo
2. Karasan
3. Sumuran
4. Taskombang
5. Dagaran
6. Ngringinan
7. Bolon
8. Peni
9. Karangasem
10. Serut

-26. RINGINHARJO :
1. Gemahan
2. Deresan
3. Gumuk
4. Soropaten
5. Mandingan
6. Bantul Karang

-27. BANTUL :
1. Kurahan
2. Bantul Warung
3. Gandekan
4. Nyangkringan
5. Babadan
6. Badegan
7. Teruman
8. Bejen
9. Geblag
10. Karanggayam
11. Grujugan
12. Serayu

-28. TRIRENGGO :
1. Gempolan
2. Sragan
3. Klembon
4. Priyan
5. Pasutan
6. Bogoran
7. Pepe
8. Nogosari
9. Gedongan
10. Gandekan
11. Manding
12. Kweden
13. Sumberbatikan
14. Bakulan
15. Cepoko
16. Karangmojo
17. Bantul Timur

-29. SABDODADI :
1. Neco
2. Manding
3. Kadibeso
4. Dukuh
5. Keyongan
9. JETIS :

-30. PATALAN :
1. Bakulan Kulon
2. Bakulan Wetan
3. Ngaglik
4. Gelangan
5. Jetis
6. Tanjung Lor
7. Tanjung Karang
8. Gaduh
9. Patalan
10. Panjangjiwo
11. Karangasem
12. Sulang Lor
13. Gerselo
14. Sulang Kidul
15. Dukuh Sukun
16. Butuh
17. Boto
18. Kategan
19. Ketandan
20. Bobok

-31. CANDEN :
1. Gadungan Kepuh
2. Gadungan Pasar
3. Jayan
4. Wonolopo
5. Kiringan
6. Banyudono
7. Suren Kulon
8. Suren Wetan
9. Gaten
10. Beran
11. Plembutan
12. Canden
13. Kralas
14. Pulo Kadang
15. Ngibikan

-32. SUMBERAGUNG :
1. Sawahan
2. Balakan
3. Ngentak
4. Paten
5. Bungas
6. Barongan
7. Kiyaran
8. Pangkah
9. Medelan
10. Cangkring
11. Beji
12. Turi
13. Kertan
14. Bulus Kulon
15. Manggung
16. Titang
17. Nogosari

-33. TRIMULYO :
1. Blawong I
2. Blawong II
3. Bembem
4. Kembang Songo
5. Sindet
6. Cembing
7. Bulu
8. Karang Semut
9. Puton
10. Denokan
11. Ponggok I
12. Ponggok II
10. IMOGIRI :

-34. SELOPAMIORO :
1. Lanteng I
2. Lanteng II
3. Lemah Rubuh
4. Jetis
5. Kedung Jati
6. Nogosari
7. Nawungan I
8. Nawungan II
9. Kajor wetan
10. Kajor Kulon
11. Siluk I
12. Siluk II
13. Pelemantung
14. Putat
15. Kalidadap I
16. Kalidadap II
17. Srunggo I
18. Srunggo II

-35. SRIHARJO :
1. Miri
2. Jati
3. Majohuro
4. Pelemadu
5. Sungapan
6. Gondosuli
7. Trukan
8. Dogongan
9. Ketos
10. Ngrancah
11. Pengkol
12. Sompok
13. Wunut

-36. WUKIRSARI :
1. Singosaren
2. Bendo
3. Mangung
4. Sindet
5. Tilaman
6. Pundung
7. Kedung Buweng
8. Karang Kulon
9. Giriloyo
10. Cengkehan
11. Nogosari I
12. Nogosari II
13. Karangasem
14. Jatirejo
15. Karangtalun
16. Dengkeng

-37. KEBONAGUNG :
1. Mandingan
2. Kanten
3. Jayan
4. Kalangan
5. Tlogo

-38. KARANGTENGAH :
1. Kemasan
2. Karang Tengah
3. Pucung Rowong
4. Karangrejek
5. Mojolegi
6. Numpukan

-39. GIRIREJO :
1. Dronco
2. Kradenan
3. Pajimatan
4. Banyusumurup
5. Tegalrejo

-40. KARANGTALUN :
1. Karangtalun
2. Setran
3. Bandungan
4. Sareyan
5. Salaman

-41. IMOGIRI :
1. Dukuh
2. Kertan
3. Paduresan
4. Imogiri
11. DLINGO :

-42. MANGUNAN :
1. Cempluk
2. Mangunan
3. Sukorame
4. Lemahbang
5. Kediwung
6. Kanigoro

-43. MUNTUK :
1. Gunung cilik
2. Muntuk
3. Sanggrahan I
4. Sanggrahan II
5. Banjarharjo I
6. Banjarharjo II
7. Tangkil
8. Karangasem
9. Seropan I
10. Seropan II
11. Seropan III

-44. DLINGO :
1. Dlingo I
2. Dlingo II
3. Karipan I
4. Karipan II
5. Pokoh I
6. Pokoh II
7. Pakis I
8. Pakis II
9. Kebosungu I
10. Kebosungu II

-45. TEMUWUH :
1. Tekik
2. Temuwuh
3. Salam
4. Klepu
5. Kapingan
6. Nglampengan
7. Jambewangi
8. Jurug
9. Tanjung
10. Lungguh
11. Ngunu
12. Tanjan

-46. TERONG :
1. Kebo kuning
2. Saradan
3. Pancuran
4. Rejosari
5. Terong I
6. Terong II
7. Pencitrejo
8. Sendangsari
9. Ngenep

-47. JATIMULYO :
1. Maladan
2. Tegallawas
3. Gayam
4. Bandean
5. Semuten
6. Banyuurip
7. Loputih
8. Kedug ayak
9. Rejosari
10. Dodogan
12. BANGUNTAPAN :

-48. BATURETNO :
1. Pelem
2. Mantup
3. Kalangan
4. Wiyor
5. Giang
6. Ngipik
7. Plakaran
8. Manggisan

-49. BANGUNTAPAN :
1. Tegal Tandan
2. Jaranan
3. Jomblangan
4. Wonocatur
5. Karangjambe
6. Karangbendo
7. Sorowajan
8. Plumbon
9. Pelemwulung
10. Pringgolayan
11. Modalan

-50. JAGALAN :
1. Sayangan
2. Bodon
-51. SINGOSAREN :
1. Singosaren I
2. Singosaren II
3. Singosaren III

-52. JAMBIDAN :
1. Ponegaran
2. Bintaran
3. Joho
4. Dhuku
5. Kretek
6. Pamotan
7. Combongan

-53. POTORONO :
1. Potorono
2. Salakan
3. Prangwedanan
4. Condrowangsan
5. Nglaren
6. Mertosanan Wetan
7. Mertosanan Kulon
8. Balong lor
9. Banjardadap

-54. TAMANAN :
1. Kragilan
2. Tamanan
3. Kauman
4. Krobokan
5. Nglebeng
6. Grojogan
7. Glagah Lor
8. Glagah Kidul
9. Sokowaten

-55. WIROKERTEN :
1. Grojogan
2. Botokenceng
3. Sampangan
4. Tobratan
5. Kepuh Wetan
6. Kepuh Kulon
7. Kertopaten
8. Mutihan
13. PLERET :

-56. WONOKROMO :
1. Pandes I
2. Pandes II
3. Jejeran I
4. Jejeran II
5. Wonokromo I
6. Wonokromo II
7. Brajan
8. Karanganom
9. Ketonggo
10. Jati
11. Demangan
12. Sareyan

-57. PLERET :
1. Gunungan
2. Trayeman
3. Kauman
4. Gunungkelir
5. Kedaton
6. Pungkuran
7. Karet
8. Kerto
9. Kanggotan
10. Bedukan
11. Keputren

-58. SEGOROYOSO :
1. Srumbung
2. Jembangan
3. Kloron
4. Segoroyoso I
5. Segoroyoso II
6. Trukan
7. Dahromo I
8. Dahromo II
9. Karanggayam

-59. BAWURAN :
1. Tegalrejo
2. Bawuran I
3. Bawuran II
4. Jambon
5. Kedungpring
6. Sentulrejo
7. Sanan

-60. WONOLELO :
1. Kedungrejo
2. Cegokan
3. Majasari
4. Depok
5. Guyangan
6. Ploso
7. Purworejo
8. Bojong
14. PIYUNGAN :

-61. SITIMULYO :
1. Babatan
2. Karanganom
3. Karangtengah
4. Mojosari
5. Karangplosos
6. Nglengis
7. Madugondo
8. Somokaton
9. Monggang
10. Karanggayam
11. Kunden
12. Cepokojajar
13. Padangan
14. Ngampon
15. Pagergunung I
16. Pagergunung II
17. Nganyang
18. Banyakan I
19. Banyakan II
20. Banyakan III
21. Ngablak

-62. SRIMULYO :
1. Bangkel
2. Klenggotan
3. Payak Cilik
4. Payak Tengah
5. Payak Wetan
6. Onggopatran
7. Kabregan
8. Sandeyan
9. Plesedan
10. Duwet Gentong
11. Ngijo
12. Jombor
13. Bintaran Kulon
14. Bintaran Wetan
15. Cikal
16. Kradenan
17. Jolosutro
18. Prayan
19. Ngelosari
20. Jasem
21. Padeyan
22. Kaligatuk

-63. SRIMARTANI :
1. Mandungan
2. Piyungan
3. Pos Piyungan
4. Wanujoyo Lor
5. Wanujoyo Kidul
6. Munggur
7. Mutihan
8. Daraman
9. Kwasen
10. Mojosari
11. Kembangsari
12. Petir
13. Sanansari
14. Bulusari
15. Rejosari
16. Kemloko
17. Umbulsari
15. SEWON :

-64. PENDOWOHARJO :
1. Dagen
2. Cepit
3. Sawahan
4. Krandohan
5. Ngimbang
6. Miri
7. Bandung
8. Ngaglik
9. Monggang
10. Kaliputih
11. Blunyahan
12. Pucung
13. Diro
14. Rogoitan
15. Banyon
16. Pendowo

-65. TIMBULHARJO :
1. Dadapan
2. Tembi
3. Gatak
4. Balong
5. Gabusan
6. Dagan
7. Sewon
8. Mriyan
9. Kowen I
10. Kowen II
11. Dobalan
12. Sudimoro
13. Bibis
14. Ngasem
15. Kepek
16. Ngentak

-66. BANGUNHARJO :
1. Jotawang
2. Salakan
3. Randubelang
4. Wojo
5. Tanjung
6. Saman
7. Druwo
8. Tarudan
9. Ngoto
10. Pandeyan
11. Bakung
12. Semail
13. Mredo
14. Gatak
15. Widoro
16. Jurug
17. Demangan

-67. PANGGUNGHARJO :
1. Garon
2. Cabean
3. Ngireng-ireng
4. Geneng
5. Jaranan
6. Glondong
7. Pandes
8. Sawit
9. Kweni
10. Pelemsewu
11. Glugo
12. Dongkelan
13. Krapyak Kulon
14. Krapyak Wetan
16. KASIHAN :

-68. BANGUNJIWO :
1. Gendeng
2. Ngentak
3. Donotirto
4. Lemahdadi
5. Salakan
6. Sambikerep
7. Petung
8. Kenalan
9. Sribitan
10. Kalirandu
11. Bangen
12. Bibis
13. Jipangan
14. Kalangan
15. Kalipucang
16. Gedongan
17. Kasongan
18. Tirto
19. Sembungan

-69. TIRTONIRMOLO :
1. Kalipakis
2. Kersan
3. Jeblog
4. Plurugan
5. Padokan Lor
6. Padokan Kidul
7. Dongkelan
8. Jogonalan Lor
9. Jogonalan Kidul
10. Glondong
11. Mrisi
12. Beton

-70. TAMANTIRTO :
1. Geblagan
2. Gatak
3. Ngebel
4. Ngrame
5. Jetis
6. Jadan
7. Brajan
8. Gonjen
9. Kasihan
10. Kembaran

-71. NGESTIHARJO :
1. Tambak
2. Sumberan
3. Soragan
4. Cungkuk
5. Kadipiro
6. Sonosewu
7. Jomegatan
8. Janten
9. Sonopakis Lor
10. Sonopakis Kidul
11. Onggobayan
12. Sidorejo
17. SEDAYU :

-72. ARGODADI :
1. Dumpuh
2. Dingkikan
3. Ngepek
4. Cawan
5. Bakal
6. Demangan
7. Bakal Dukuh
8. Sukohardjo
9. Sumberan
10. Selogedong
11. Sungapan Dukuh
12. Sungapan
13. Kadibeso
14. Brongkol

-73. ARGOREJO :
1. Kalakan
2. Semampir
3. Kepuhan
4. Polaman
5. Senowo
6. Gunungpolo
7. Sundikidul
8. Bandut Lor
9. Bandut Kidul
10. Metes
11. Pendul
12. Pereng wetan
13. Ngentak

74 ARGOSARI
1 Kalijoho
2 Klangen
3 Tapen
4 Botokan
5 Gunung Mojo
6 Jambon
7 Tonalan
8 Gayam
9 Jaten
10 Jurug
11 Gubug
12 Sedayu
13 Pedusan

–75. ARGOMULYO :
1. Puluhan
2. Kemusuk Lor
3. Kemusuk Kidul
4. Srontakan
5. Samben
6. Sengon karang
7. Watu
8. Panggang
9. Karanglo
10. Pedes
11. Plawonan
12. Surobayan
13. Kaliurang
14. KaliberotKaliberot

demikianlah seluruh daftar kecamatan, desa dan dusun yang ada di dalam wilayah kabupaten Bantul, semoga bermanfaat.